Kebaikan Tertinggi adalah tidak Berbuat keburukan?

oleh -101 views
Spread the love
Advertisement

Sebuah gedung, rumah, sekolah atau pun kantor, juga bangunan-bangunan yang lain tentu selalu memerlukan perawatan untuk ketahanan keberlangsungannya, termasuk menjaga kebersihan di dalammya.

Untuk menjaganya tetap bersih maka tentu segala kotoran mutlak disingkirkan. Otomatis kiat-kiat untuk itu pun harus senantiasa dihadirkan, agar tujuan utama dapat diraih. Pertanyaan demi pertanyaan pun akan muncul, guna terciptanya inovasi-inovasi sebagai lompatan-lompatan berpijak dalam mengimplementasikan suatu keputusan.

Salah satu pertanyaan yang akan muncul adalah: langkah manakah yang lebih efektif dan efesien dalam menciptakan kebersihannya, apakah setiap hari membersihkannya saja ataukah setiap hari juga menjaga (menghindari) membuang kotoran di tempat atau di bangunan itu ?

Premist paragraph diatas, mungkin tak ada salahnya jika dikorelasikan dengan perbandingan antara berbuat kebaikan dengan menghindari keburukan.

Semua perbuatan baik itu mendapatkan ganjaran kebaikan di dunia dan di akhirat (berpahala), sedangkan perbuatan buruk itu mendapatkan ganjaran keburukan di dunia dan di akhirat (berdosa).

Umumnya semua perbuatan baik itu terdapat celah keburukan yang senantiasa mengintip ke depannya. Perlu kewaspadaan yang ekstra hati-hati secara kontinyu dan komprehensif untuk menjaga kebaikan tersebut tetap berpahala serta tidak berubah menjadi dosa di dalam prosesnya, di masa yang akan datang.

Baca Juga :   Opini : Rp. 200,- Mampukah Mengurangi Limbah Plastik?

Ketika seseorang berbuat baik kepada seseorang yang lain, maka bukan berarti dirinya telah selesai mendapatkan pahala dalam perbuatan tersebut. Tapi, masih diperlukan tanggung jawab ke depan sebagai suatu konsekwensi untuk tetap terjaganya kemurnian dari perbuatan baik yang telah dilakukannya.

Sekadar illustrasi:
Seseorang telah berbuat baik pada seseorang yang lain dengan memberikan sumbangan uang secara sukarela atau telah berbuat baik dengan membantunya untuk keluar dari kesusahan persoalannya. Tapi, dalam proses ke depannya orang yang telah berbuat baik ini menceritakan bantuannya ini kepada orang lain atau pada sekumpulan orang dengan beberapa tambahan keterangan untuk memperindah ceritanya. Atau boleh jadi, orang yang telah berbuat kebaikan ini menuntut balik baik secara langsung maupun tak langsung pada orang yang telah dibantunya untuk juga berbuat baik kepada dirinya. Jika hal ini terjadi, apakah perbuatan baik tersebut diatas masih berpahala ataukah telah terkontaminasi oleh dosa ?

Umumnya manusia lebih condong mengejar pahala daripada menghindari dosa. Padahal, menghindari dosa lebih tinggi kualitas kemurnian pahala dalam keberlangsungannya dibandingkan dengan berbuat kebaikan guna mengejar pahala. Sangat kecil kemungkinannya seseorang dapat bercerita kepada orang lain, sehubungan dirinya sering menghindari dosa. Kenapa ? Karena kurangnya bukti yang mendukung cerita tersebut. Sehingga, pahala yang tercipta dari perlakuan menghindari dosa ini, lebih terjamin kemurnian keberlangsungannya. Juga, orang tersebut pun sangat tidak bisa menuntut orang lain untuk berbuat kebaikan kepadanya karena merasa telah berbuat baik dengan tidak berbuat dosa pada orang lain.

Baca Juga :   Akibat Pandemik Covid-19 Perindustrian Otomotif Nasional Mengalami Lumpuh

Orang yang berbuat baik pada orang lain dengan mengejar pahala, biasanya dilengkapi bukti-bukti yang tercipta secara otomatis bahwa dirinya telah berbuat baik pada orang lain tersebut. Sehingga, tanggung jawabnya ke depan sangat berat karena banyak celah hadir yang dapat memprovokasi dirinya untuk bercerita kepada orang banyak atau dapat pula dia menuntut upah atau balas budi baik langsung maupun tak langsung. Ataukah juga dapat memprovokasi dirinya berbuat yang lebih buruk lagi, karena merasa orang lain telah berutang budi padanya.

Tulisan ini bukan untuk melarang orang untuk berbuat kebaikan pada orang lain, tapi untuk mengajak kita semua supaya berbuat baiklah dengan berlandaskan ilmu pengetahuan yang benar dan baik. Sehingga, kemurnian amal yang diperoleh dari perbuatan baik itu dapat bertahan secara berkelanjutan dan menyeluruh hingga akhir masa.

Baca Juga :   ZAKAT : Ibadah Wajib yang Berdimensi Sosial

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan ke derajat yang tinggi” (QS, Al Mujadalah ayat 11).

Nabi besar Muhammad SAW bersabda, yang artinya:
“Apabila kalian bergegas berangkat menuntut ilmu (mempelajari ayat-ayat Allah) itu lebih tinggi nilainya daripada sholat sunnah seratus rakaat” (HR Muslim).
(Wallahu A’lam Bis-Shawabi).
Gowa, Februari 2021
SYAHRIR AR

loading…