Opini : Keutamaan Zikir, Pikir, Dan Amal Shaleh

oleh -78 views
Spread the love
Advertisement

Penulis : Basrin Ombo, S.Ag., M.HI

Zikir, Pikir
Allah swt. berfirman dalam Al-qur’an Surat Ar Ra’d: 28, yang artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.


Zikir adalah bahasa Arab yang telah teradopsi ke dalam bahasa Indonesia dengan makna menguc,apkan (menyebut) nama Allah. Sedangkan secara hakiki adalah mengingat Allah dalam setiap gerak hidup seorang mukmin. Pikir adalah akal yang bisa juga dikonotasikan dengan ilmu (pengetahuan). Hidup manusia akan sempurna (bahagia) jika zikir dan pikir itu melekat pada dirinya. Zikir adalah selalu mengingat Allah, sehingga takut berbuat yang dilarang-Nya dan taat melaksanakan segala perintah-Nya.


Setiap manusia (seorang muslim ) selalu berharap agar hidupnya selalu dalam keadaan bahagia, yakni mendambakan bahagia di dunia dan di akhirat. Bahagia atau tidaknya seseorang sering tercermin dari penampilan dan sikapnya di tengah masyarakat. Ukuran kebahagiaan tidak sama, ada orang yang memiliki harta benda yang banyak, punya kedudukan, anak istri dan lain sebagainya, tetapi belum tentu ia menikmati kebahagiaan itu.

Banyak contoh tentang orang kaya yang tidak bahagia. Bahkan tak sedikit yang putus asa, menempuh jalan yang sesat. Itulah sebabnya agama Islam menghendaki umatnya agar dapat hidup bahagia lahir bathin.


Manusia yang hidup di dunia ini harus berpikir dan berzikir. Yang dimaksud dengan berpikir adalah menjalankan akal, punya ilmu dan kepintaran. Seseorang muslim harus memiliki ilmu dan keterampilan, agar bisa mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam yang disediakan Allah. Dijadikan-Nya langit dan bumi serta segala isinya, agar manusia berpikir dan berupaya untuk mengolahnya, untuk itu perlu ilmu. Mustahil tanpa ilmu orang akan mengusahakan sesuatu.

Ayat pertama Al-qur’an yang diturunkan dimulai dengan perintah “membaca”. Surah Al-‘Alaaq ayat 1-5, yang artinya: ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Baca Juga :   Pengurus DPD NasDem Poso Ikuti Uji Rapid-Test


Allah telah menggariskan, bahwa dengan tulis baca, manusia akan memiliki ilmu. Manusia yang berilmu akan punya wawasan dan pikiran yang luas. Tuhan Yang Maha Kuasa berulangkali di dalam Al-qur’an mengingatkan manusia untuk menggunakan pikirannya dalam menempuh kehidupan dunia. Di antara kutipan Al-qur’an tentang seruan Allah: “Apakah kamu tidak memikirkannya.” Maksudnya, manusia hendaknya menggunakan pikirannya untuk mengolah nikmat Allah yang begitu banyak.

Setelah memiliki ilmu pengetahuan serta menguasai teknologi, manusia juga dituntut untuk selalu “ingat” dengan Sang Pencipta, Allah swt. Yang dimaksud ingat (zikir) kepada Allah bukan hanya sekedar menyebut nama atau memuji-Nya. Tetapi yang dimaksud dengan ingat (zikir) adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan ilmu seseorang lalu berpikir, dengan pikiran itu membuatnya bertambah dekat dengan Allah.

Kepintaran, keahlian serta kecakapan yang dimilikinya, selain dipergunakan untuk mencari kehidupan duniawi juga mempersiapkan diri untuk kehidupan ukhrawi. Nikmat kekayaan, kekuasaan, serta keluarga yang dimilikinya, juga digunakan untuk jihad fi> sabilillah. Jihad bukan berarti perang, tetapi amal saleh, infaq di jalan Allah, seperti membangun rumah peribadatan, pendidikan, serta menyantuni fakir miskin.


Dimanapun, kapanpun, manusia disuruh selalu ingat kepada Allah. Di tempat kerja, di perjalanan, di rumah, harus ingat kepada Allah. Ingat (zikir) dengan Allah harus pula diikuti dengan ingat akan perintah-Nya. Jika seseorang sedang di kantor, di sekolah, di pasar, di tengah sawah, dalam perjalanan tiba waktu sholat, maka segeralah sholat.

Jadi bukan hanya sekadar ingat saja. Dengan selalu ingat kepada Allah, manusia akan terhindar dari segala perbuatan tidak baik. Kalau ia seorang pedagang, ia tidak mau berdusta, mengurangi timbangan atau takaran. Kalau ia seorang pegawai negeri, pejabat, atau aparatur pemerintah, jika ia ingat akan Allah, maka ia tidak akan mau korupsi, menyeleweng, menyalahgunakan jabatan, jika ia sebagai seorang pelajar, maka ia harus patuh dengan guru, ingat belajar, tidak suka tawuran dan sebagainya.

Baca Juga :   Bupati Poso Pantau Penyaluran BLT Tahap II Desa Mayasari & 4 Desa Lainnya di Wilayah Kecamatan Pamona Selatan

Amal Saleh
Secara bahasa “amal” berasal dari bahasa Arab yang berarti perbuatan atau tindakan, sedangkan saleh berarti yang baik atau yang patut. Menurut istilah, amal saleh ialah perbuatan baik yang memberikan manfaat kepada pelakunya di dunia dan balasan pahala yang berlipat di akhirat. Islam memandang bahwa amal saleh merupakan manifestasi keimanan kepada Allah swt. Islam bukan sekadar keyakinan, melainkan amalan saleh yang mengejawantahkan keyakinan tersebut.

Amal saleh menegaskan prinsip-prinsip keimanan dalam serangkaian aturan-aturan Allah swt. Sedangkan amal saleh yang tanpa keimanan akan menjadi perbuatan yang tidak ada nilainya di hadapan Allah. Sebagai contoh, orang yang dalam kesehariannya suka memberi bantuan kepada siapa saja yang membutuhkan tetapi tidak dilandasi dengan keimanan kepada Allah, maka perbuatan tersebut tidak mendapat nilai atau balasan dari Allah.


Syarat sahnya sebuah perbuatan baik seseorang ditentukan oleh: “Amal saleh harus dilandasi niat karena Allah semata, amal saleh hendaknya dikerjakan sesuai dengan Al-qur’an dan hadits, amal saleh juga harus dilakukan dengan mengetahui ilmunya” Oleh karenanya sebagai hamba Allah, manusia dalam berbuat kebaikan harus disertai dengan niat yang ikhlas, sesuai dengan tuntunan Al-quran dan hadis dan tahu ilmunya sehingga dapat mendatangkan kebaikan bagi si pelaku.

Al-qur’an menghubungkan kata “amanu” (mereka beriman) dan “amilus-shalihat” (mereka beramal saleh) dengan kata sambung “wa” (dan). Hal ini diterangkan pada 50 ayat Al-Quran, antara lain: Q.S. Al-Baqarah: 25,28,82,277, Ali ‘Imron: 57,122,173, At-Tin:6, Al-Bayyinah: 7, dan Al-‘Ashr: 3. Dalam 10 ayat yang lainnya, yaitu: An-Nisa’: 124, Hud: 11, Al-Isra’: 9, Al-Kafh 18: 2,46, Maryam: 76, Taha: 75,122, Al-Anbiya’: 49, An-Nur: 55, Al-Qur’an juga menyebutkan kata “as-salehat” tetapi tidak menghubungkannya secara langsung dengan “amanu”.

Baca Juga :   Opini : Hari Pendidikan Nasional Bukan Sekadar Peringatan Belaka


Dari apa yang ditemukan pada ayat-ayat Al-qur’an tersebut, disimpulkan bahwa amal saleh merupakan wujud dari keimanan seseorang. Artinya, orang yang beriman kepada Allah harus menampakkan keimanannya dalam bentuk amal saleh. Iman dan amal saleh ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Mereka bersatu padu dalam suatu bentuk yang menyebabkan ia disebut mata uang.

Iman tanpa amal saleh juga dapat diibaratkan pohon tanpa buah. Dengan demikian, seorang yang mengaku beriman harus menjalankan amalan Keislaman, begitu pula orang yang mengaku Islam harus menyatakan keimanannya. Iman dan Islam seperti bangunan yang kokoh di dalam jiwa karena diwujudkan dalam bentuk amal saleh yang menunjukkan nilai-nilai Keislaman.


Allah swt. menjanjikan kepada mereka yang beriman dan beramal saleh memperoleh surga na’im (sarat nikmat), maghfirah (ampunan Allah), dan pahala yang besar (arjun azhim). Selain itu, amal saleh merupakan kunci keberuntungan bagi manusia. Amiin…

loading...