Ruh adalah Urusan Tuhanku

oleh -28 views
Spread the love
Advertisement

“Mereka itu bertanya kepada engkau tentang Ruh. Katakanlah! Ruh itu urusan Tuhanku, tiada kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit saja” (QS. al-isra’ ayat 85).

Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Mari memposisikan diri untuk mendekati sifat Allah, dengan melakukan hal yang sederhana terlebih dahulu yakni dengan mengasihi dan menyayangi sesama manusia, bahkan sesama makhluk.

Untuk melakukan pendekatan pada seseorang agar dapat diterima menjadi kekasihnya (pria atau perempuan) maka tentunya harus mengetahui terlebih dahulu tentang siapa orang tersebut, apa yang disukainya dan apa yang dibencinya atau tidak disukainya.

Ketika proses pendekatan yang dilakukan ini maksimal berlangsung, yang terjadi adalah kita telah mengetahui dengan benar dan baik tentang siapa orang tersebut, tentang apa yang disukai juga apa yang tidak disukainya.

Sementara, penguasaan pengetahuan tentang semua hal ini berlangsung dan berkekalan tersimpan dalam memori ingatan serta mampu dijadikan pondasi permanen dalam membangun pola pikir dan pola laku dalam pengejawantahan kiprah kita bersosialisasi guna hadirnya jalinan kisah kasih atau seseorang tersebut berhasil atau menyetujui kita untuk menjadi kekasihnya.

Apapun yang diinginkan oleh orang dicintai ini tentunya kita akan selalu maksimal tanpa kenal lelah dan menyerah guna dapat meluluskan keinginannya.

Ketika dengan sungguh-sungguh kita mencintai seseorang maka selain berusaha memenuhi segala keinginannya, juga tanpa diminta pun diri ini senantiasa membantunya untuk menyenangkan hatinya.

Begitu pula halnya dengan mengejar untuk meraih dan mendapatkan cintanya Allah SWT. Tentunya, harus diketahui siapa itu Allah, apa yang disukai dan apa yang tidak disukai Allah.

Baca Juga :   Derita Kuli Tinta

Untuk mengetahui siapa itu Allah maka ketahuilah sifat-sifatnya terlebih dahulu. Selanjutnya, lakukanlah pendekatan melalui sifat-sifatNya.

Allah itu bersifat Maha Pemaaf, maka berilah maaf dengan ikhlas kepada orang yang telah menyakiti kita, bukan dengan melakukan pembalasan agar orang tersebut juga sakit hati. Hal ini bisa dilakukan bila diri senantiasa dilatih untuk meredam amarah dan tidak cepat tersinggung dalam bersosialisasi di masyarakat atau pun pada teman-teman sejawat. Hindarkan diri menyimpan kesalahan orang lain di dalam hati, dengan tujuan untuk membalasnya di kemudian hari.

Allah itu bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka sering-seringlah berbagi terhadap apa yang bisa dibagi, atau pun memberi kepada orang yang tidak mampu serta sayangilah sesama manusia. Bukan pula, dengan kawin sana serta kawin sini yang rawan pertengkaran atau perselisihan dan berujung dengan menyakiti juga menelantarkan amanah dari Allah SWT, demi menurutkan hawa nafsu semata.

Allah itu Maha Adil, maka hendaklah diri ini untuk senantiasa menghadirkan keadilan dalam membuat keputusan.

Allah itu “Mustahil Berbohong”, maka berusahalah semaksimal mungkin untuk menghindari kebohongan, jangan mempermainkan perasaan orang lain dan jangan melakukan tipu daya, karena Allah itu sebaik-baik pembalas tipu daya. Biasakan diri untuk tidak melakukan kebohongan, walaupun itu hal-hal yang kecil, karena hal ini akan memicu diri untuk berlanjut melakukan kebohongan-kebohongan yang lebih besar lagi. Dan seterusnya, pendekatan pada sifat-sifat Allah yang lainnya.

Baca Juga :   Keadilan Dipersimpangan Jalan

Sekiranya diri ini telah dengan senantiasa melakukan pendekatan kepada Allah, dengan melakukan perintahNya juga menjauhi laranganNya serta bersifat atau berkelakuan mendekati sifat-sifatNya maka Allah akan mengangkat kita menjadi kekasihNya.

Ketika diri ini telah menjadi kekasihNya maka yang menjadi rahasia bagi orang lain tidak lagi menjadi rahasia bagi diri kita, termasuk rahasia tentang urusan Ruh.

Perhatikan hadits berikut, dari Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya.

Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami,
“Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”
Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada ibu ini kepada anaknya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah sayang kepada semua hambaNya. Tapi, tentunya hal ini berlaku jika kita mampu menghadirkan terlebih dahulu maksimalitas dari diri dalam ikhtiar penghambaan kepada Allah sesuai perintahNya.

“Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Bolehkah aku lepaskan untaku lalu aku bertawakal? Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakallah” (HR Ath Thabrani).

Baca Juga :   ZAKAT : Ibadah Wajib yang Berdimensi Sosial

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d ayat 11).

Jadi ikhtiar atau usaha haruslah dihadirkan terlebih dahulu sebelum berdoa atau bertawakkal kepadaNya.

Jangan hanya mengandalkan doa atau tawakkal tanpa usaha, karena itu adalah pekerjaan sia-sia. Berusahalah terlebih dahulu dengan maksimal, peras keringat, banting tulang yang semuanya itu di dalam prosesnya pasti selalu ada ujian-ujian Allah yang menyertainya. Keletihan dan kesakitan bahkan mungkin tangis air mata juga ikut hadir dalam proses ikhtiar kita.
(Wallahu A’lam Bis-Shawabi).

SYAHRIR AR
GOWA, SELASA, 01 JUNI 2021

loading...