Sekelumit tentang Waliullah (Wali Allah)

oleh -216 views
Spread the love
Advertisement

Dia adalah manusia yang diberikan amanah untuk menjadi wakil atau pesuruh Allah di dunia, serta berada pada posisi satu tingkat dibawah derajat seorang Nabi Allah.

Seorang Nabi memiliki dominasi sosialisasi di dunia nyata dalam menjalankan tugas kenabiannya. Tapi, dia juga diberi kemampuan untuk masuk ke dunia gaib untuk menjalankan tugas atau amanah sesuai yang diperintahkan oleh Allah SWT. Salah satu contohnya, yakni ketika Nabi Besar Muhammad SAW masuk ke alam gaib untuk mengislamkan sekumpulan jin.

Waliullah memiliki tugas yang diembannya adalah mengurus dunia nyata, tapi melalui dunia gaib karena dirinya tak terlihat oleh manusia pada umumnya. Rumah tempat tinggalnya umumnya tidak diketahui pula oleh khalayak ramai. Markas besarnya adalah di gunung.

Simaklah Alquran surah Al-Anbiya ayat 31: “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…”

Dalam surah Al-Naba ayat 6-7, Allah SWT berfirman, “Bukankah telah Kami jadikan bumi sebagai hamparan. Dan Kami jadikan gunung-gunung sebagai pasak?”

Setelah hadirnya nabi Muhammad SAW sampai saat ini dan hingga akan berakhirnya dunia, Waliullah selain bermarkas di gunung maka tiap mesjid itu dihuni atau dijaga oleh satu atau lebih Waliullah, siang dan malam untuk setiap harinya tapi tentunya tidak terlihat secara kasat mata. Dan disana mereka menjalankan tugasnya (berkantor).

Manusia biasa yang sempat melihat langsung seorang Waliullah, itu terjadi bukan berkebetulan. Tapi, karena Allah memerintahkan pada Waliullah ini untuk menemui yang bersangkutan. Boleh jadi, ada kebaikan yang disukai oleh Allah dari orang tersebut sehingga Waliullah ini diperintahkan untuk menemuinya, agar yang bersangkutan bisa mendapatkan hikmah dari pertemuan ini.

Baca Juga :   Corona

Tiap wali ditempatkan pada mesjid yang telah ditentukan, dengan batas waktu tertentu pula. Mereka akan berpindah atau dipindahkan (mutasi) dari mesjid lebih kecil ke mesjid yang lebih besar atau sebaliknya, tergantung pangkat atau kualitas dari kewaliannya meningkat atau menurun (ada peningkatan kualitas atau ada pelanggaran). Mesjid yang terbaik akan ditempati pula oleh para Waliullah yang mempunyai kualitas terbaik pula.

Tiap gunung pun, selain dihuni oleh Waliullah maka markas besar para jin (syaitan) juga berada di dekatnya, karena umumnya Allah menjadikan atau mengatur segala sesuatu itu dengan berpasangan. Contohnya, ada dingin maka ada pula panas, ada laki-laki maka ada pula perempuan, ada siang dan malam, ada kecil dan besar, ada miskin dan kaya, ada muda dan tua, begitu pula ada kebaikan dan keburukan, dan seterusnya.

Begitu pula dengan kualitas atau tingkatannya, jika umumnya kualitas Waliullah di tempat itu adalah tinggi atau sangat tinggi maka kualitas jin (syaitan) yang bertempat di dekatnya, juga berkualitas atau mempunyai tingkatan tinggi atau sangat tinggi.

Semua daerah atau kabupaten maka pasti ada Waliullah, sehingga umumnya juga ada gunung dan mesjid.

Umumnya ketika seorang Wali Allah yang lalai, khilaf atau tergelincir dalam pelanggaran, maka salah satu sanksi yang diterimanya selain pemecatan adalah menampakkan dirinya di dunia nyata sebagai orang yang terlihat seperti orang gila yang mungkin kesana-kemari dengan pakaian sangat kumal serta membawa buntalan yang juga sangat kumal. Sanksi ini pun berlangsung dengan batasan waktu tertentu, yang boleh jadi lama atau pun singkat, tergantung besar atau kecilnya pelanggaran.

Baca Juga :   Hari Pahlawan Dan Tantangan Zaman

Dalam giat profesionalnya, Waliullah ini tidak punya kemampuan untuk melarang secara langsung syaitan yang melakukan pekerjaan jahatnya mengajak manusia berbuat keburukan, begitu pula sebaliknya walaupun diantara mereka umumnya saling menyaksikan satu sama lain.

Yang dapat terjadi adalah beberapa syaitan mendapatkan hidayah dan mengikuti ajakan Waliullah ini untuk masuk Islam dan menjadi jin muslim. Biasa pula terjadi sebaliknya yakni beberapa Waliullah ini berteman dengan jin, walau sebenarnya itu harus dihindarinya tapi kembali lagi pada kualitas dari Waliullah ini sangat berperan, dimana berbeda dengan kualitas para Nabi Allah.

Tidak pernah ada Nabi Allah yang berteman dengan jin, kalau memerintah jin itu ada. Kata berteman dengan kata memerintah itu mempunyai arti yang berbeda. Ada pula Nabi yang mempunyai ummat dari golongan jin. Kata ummat pun berbeda dengan kata berteman.

Nabi dipilih atau diangkat langsung oleh Allah SWT, sedangkan Waliullah sangat berperan dari pengaruh para Waliullah senior dalam pengangkatannya. Sehingga, perbedaan kualitas tentu ada, karena sistem perekrutan juga berbeda.

Baca Juga :   Opini : Hari Pendidikan Nasional Bukan Sekadar Peringatan Belaka

Tidak ada satu pun Nabi Allah yang dipecat, tapi Waliullah ada yang dipecat. Sedangkan mengenai sanksi maka selain Waliullah, beberapa Nabi Allah pun pernah mendapatkannya. Seperti: Nabi Adam As yang diusir dari surga karena memakan buah khuldi, Nabi Yunus As yang harus masuk ke dalam perut ikan karena meninggalkan ummatnya sebelum ada perintah dari Allah, Nabi Muhammad SAW yang mendapakan teguran karena tidak memperhatikan pertanyaan dari seorang “hamba Allah” yang tampil buta, Nabi Musa As yang menganggap dirinya paling pintar dan selanjutnya mendapatkan dirinya bahwa dia bukanlah terpintar, setelah berhadapan dengan Nabi Khidir As.
(Wallahu A’lam Bis-Shawabi)
SYAHRIR AR
GOWA, AKHIR DESEMBER 2020

loading…